TGB Minta BNPT Tingkatkan Spiritualitas

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membentuk tim gugus tugas pemuka agama dalam penanggulangan terorisme di Indonesia. Salah satu tokoh agama tersebut yaitu Ketua Umum Dewan Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi.,MA.

Dalam kesempatannya, Ketua PBNW yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) tersebut mengatakan bahwa untuk menghadapi terorisme adalah memperkuat pengetahuan tentang agama.

“Menghadapi terorisme, harus berbekal spiritualitas yang kuat. Kalau kurang taqarrub, susah menghadapi teroris,” tutur TGB.

TGB yang merupakan cucu dari pahlawan nasional KH. Zainuddin Abdul Madjid ini menceritakan salah satu temannya yang bertugas di kepolisian, Komjen Pol (purn) Drs. I Made Mangku Pastika yang berhadapan langsung dengan salah satu terpidana kasus terorisme yakni Amrozi, dalam berhadapan dengan Amrozi, ia selalu pergi ke Pura untuk meningkatkan spiritualitasnya.

Hal tersebut, kata TGB, dilakukan untuk menghidari pengaruh-pengaruh yang berbahaya dari Amrozi, mengingat kemampuannya dalam mempengaruhi orang, hal tersebut terbukti dengan terpengaruhnya dua anak buah dari mantan Kapolda Bali tersebut.

“Pak Made Mangku Pastika sampaikan bahwa setiap akan menjumpai Amrozi, dia ke pura dulu sembahyang. Kata Pak Mangku, Amrozi itu spiritualitasnya kuat. Kurang-kurang hanyut kita”.

TGB yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia ini juga menceritakan kisah Ibnu Abbas RA yang diutus menghadapi Khawarij yang berujung sebagian besar kaum Khawarij taubat, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan Intelektualitas dan pengetahuan agamanya.

“Bedil bukan modal utama menghadapi terorisme. Jadi orang BNPT itu harus ahli ibadah. Kuat Spiritualitas plus intelektualitasnya,” tutup Krtua PBNW yang juga Ketua OIAA Cabang Indonesia ini.

Intelektual lanjutnya, juga merupakan salah satu modal penting untuk melakukan analisa terhadap suatu kejadian terorisme, karena tindakan terorisme bukan didasari hanya pada faktor agama saja

“Makrifatudda’ nishfuddawa’, diagnosa yang tepat adalah kunci. Jangan mudah pukul rata, seakan semua karena faktor agama. Saya contohkan Pondok Pesantren Madani Bima yang disebut ekstrim, ternyata pangkal masalahnya adalah ketidak adilan perlakuan Pemda Bima kepada mereka. Bukan anti NKRI. Bukan intoleran,” jelas TGB.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli Amar BNPT mengatakan, kolaborasi bersama dengan tokoh pemuka agama bertujuan agar menghadang penyebarluasan paham radikal intoleran yang berpotensi menjadi radikal terorisme ini bisa kita antisipasi lebih awal.

Boy Rafli Amar menyebut BNPT memerlukan bantuan tokoh agama untuk menjelaskan kepada seluruh umat di Indonesia. Pihaknya menyebut akan menjalankan program untuk 2021 mendatang.

“Tentu dalam rangka meluruskan itu, kita memerlukan bantuan tokoh agama untuk menjelaskan ke seluruh umatnya,” kata Boy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kecelakaan Maut Di Kecamatan Batukliang, Satu Orang Tewas

Jum Jan 1 , 2021
Praya – Kecelakaan maut terjadi di jalan raya simpang empat Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat (1/1). Satu pengendara motor dilaporkan tewas. Dump Truck bernomor Polisi DR 8731 A yang dikemudikan Badri (57), laki-laki warga kota Mataram menghantam sepeda motor Honda Vario bernopol DR 2924 UC. Akibatnya pengendara […]