Polisi Panggil Dua Tersangka Korupsi Dana Desa Terong Tawah

Lombok Barat – Kanit Tipikor Polres Lombok Barat panggil mantan Kepala Desa (Mandes) Terong Tawah, Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat. Rabo (23/9/2020).

Pemanggilan SH dan mantan Sekdesnya berinisial BH tersebut diduga telah melakukan penggelapan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2018.

Akibat dugaan penyalah gunaan dana desa tersebut menyebabkan kerugian negara sebesar lebih dari Rp.488 juta pada tahun anggaran 2018.

Kantit Tipikor Satreskrim Polres Lombok Barat, Ipda. Baejuli, menjelaskan, pemanggilan kepada dua orang tersangka dalam pengelolaan dana desa di Desa Terong Tawah tahun 2018 tersebut untuk melakukan pemeriksaan terhadap terduga sebagai pemeriksaan lebih lanjut.

” Ya sesuai dengan audit yang telah di lakukan oleh BPKP.” Ucap Baejuli saat ditemui diruangannya. Rabo (23/9/2020).

Menurut Baejuli, Desa Terong Tawah ini tentu mendapat aliran dana dari pemerintah pusat setiap tahunnya, dan tentunya alokasi dana desa dikelola oleh pemerintah desa setempat.

” Namun dalam pengelolaannya, ditemukan adanya penyalahgunaan dana desa yang dilakukan oleh kedua tersangka.” Jelas Ipda. Baejuli.

Lebih rinci Kanit Tipikor Polres Lombok Barat Menjelaskan, Dana tersebut ada yang dialokasikan untuk proyek pembangunan dan ada juga yang berupa pembangunan fiktif. Dimana pembangunan tersebut telah ada laporannya, namun bentuk fisik dari pembangunan tersebut justru tidak ada.

Tidak hanya itu, sebagian dana tersebut juga digunakan untuk mark-up harga yang dalam laporannya, harga dibuat tidak sesuai dengan harga sebenarnya.

“ Ya dua orang yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka yang seharusnya hadir dalam pemanggilan ini. Tapi ini baru satu yang sudah memenuhi panggilan yaitu mantan Sekdesnya,” jelas Baejuli.

Karena tersangka yang sudah memenuhi panggilan tersebut tanpa didampingi oleh pensihat hukum, maka tim Tipikor belum bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Juga tetap memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan agar menggunakan haknya untuk mencari penasihat hukum sendiri.

“ Sesuai dengan haknya dia, kita sudah tunjuk penasihat hukum, tapi yang bersangkutan belum mau dan dia akan mencari penasihat hukum sendiri. Tapi sebelumnya dia akan berembuk dulu bersama keluarga,” katanya.

Tipikor Satreskrim Polres Lobar memberi batas waktu kepada yang bersangkutan. Seperti besok, Kamis (24/09/202) yang bersangkutan paling lambat, harus sudah dapat memberi kepastian terkait hal tersebut.

“ Pemanggilannya besok (24/09/2020) itu mantan Sekdesnya harus sudah datang untuk memberi kepastian terkait penasihat hukum. Tetapi mandesnya belum bisa datang karena penasihat hukumnya masih berada di luar daerah,”jelasnya.

Menurut dia, untuk saksi pemeriksaan dalam kasus ini, Tim Tipikor Polres Lobar telah memeriksa sekitar 30 saksi. Terdiri dari unsur masyarakat, pihak ketiga, serta dinas terkait yang ada hubungannya dengan kasus tersebut.

Dalam proses penyelidikan ini, sambung Baejuli, apabila memang ditemukan indikasi yang menyeret orang lain dalam kasus ini, maka akan langsung diperiksa lagi dan tidak menutup kemungkinan bisa mencuatnya tersangka baru.

“Tapi untuk sementara saat ini dua orang ini yang harus bertanggungjawab terkait dengan penyalahgunaan pengelolaan anggaran desa tersebut,” jelasnya.

Terkait untuk penahanan, Baejuli mengakui belum dapat memastikan hal tersebut. Tetapi yang pasti, setelah segala proses pemeriksaannya sebagai tersangka dapat dikatakan rampung, baru kemudian akan diputuskan terkait penahanan kedua tersangka tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Pencuri Emas 160 Gram di Bui Polres Lombok Tengah

Thu Sep 24 , 2020
Lombok Tengah -Anggota Polsek Pujut berhasil menangkap pelaku tindak pidana pencurian dan penadahan emas 160 gram dengan seharga Rp 137 Juta yang terjadi di Dusun Gerupuk, Desa Sengkol Kecamatan Pujut. “Pelaku pencurian inisial HI (32) dan Penadah inisia FA (27) warga Desa Sengkol,” ujar Kapolsek Pujut, Iptu Lalu Abdurahman kepada […]