Samota, Surga bahari di kaki Tambora

GET MORE – Kawasan Samota di Pulau Sumbawa membentang dari Kabupaten Sumbawa hingga Dompu ini menyimpan potensi perikanan dan kelautan yang berlimpah.

Samota sendiri adalah akronim untuk nama tiga kawasan wisata di Sumbawa yakni Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora. Panorama di kawasan Samota sangat potensial mendatangkan wisatawan, baik itu nusantara maupun mancanegara.

Dengan luas mencapai 680.725 hektar, perairan 212.300 hektar. Di kawasan itu bertebaran 49 pulau kecil (gili), 36 diantaranya berada di Sumbawa, tepatnya di Teluk Saleh, dan berada 13 di Dompu.

Saat ditetapkan sebagai Cagar Biosfer oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 19 Juni 2019 di Paris, Perancis, sebagai cagar biosfer dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council. Pemerintah NTB pun makin aktif mengupayakan pembangunan di wilayah tersebut dengan berpegang pada konsep pembangunan berwawasan lingkungan.

Nama Samota ini sendiri dikenalkan pada era kepemimpinan Gubernur NTB, TGB HM Zainul Majdi dan Wakil Gubernur Badrul Munir pada 2008-2013. Dan mulai direalisasikan sebagai mimpi jangka panjang sebuah kawasan elite.

Ketiga lokasi itu merupakan favorit karena mencakup pegunungan hingga dunia bawah laut. Samota layaknya ‘surga’ bagi para wisatawan.

Tambora memiliki Savana Doro Ncanga dan Doro Bente. Destinasi ini berada pada kawasan National Geopark Tambora. Savana Doro Ncanga merupakan lokasi bentangan padang rumput lebih dari 6.000 hektare.

Kawasan ini juga menjadi lokasi penggembalaan sapi, kerbau, hingga kuda. Masih di kawasan Tambora, terdapat Doro Bente yang merupakan kaldera yang tidak aktif lagi. Doro Bente memiliki ketinggian 80 mdpl dan berbatasan langsung dengan laut.

Sedangkan Teluk Saleh yang memiliki kedalaman mencapai 200 meter ini memiliki daya tarik sendiri. Kawasan ini familiar sebagai akuarium raksasa karena memiliki biota laut yang sangat lengkap. Beragam jenis spesies terumbu karang dan ikan ada di sana. Yang menjadi idola adalah manta atau pari paka.

Sementara perairan Moyo dikenal memiliki pusaran arus yang dikenal sebagai fenomena pembersihan air. Meski demikian, pusaran arus tersebut tidak berbahaya.

Dan di Pulau Moyo terdapat Air Terjun Mata Jitu yang memiliki pesona tersendiri, dengan ketinggian 15 meter dan 12 kolam bertingkat. Area ini sangat eksotis karena menjadi oase di tengah savana Pulau Moyo.

Wisatawan juga bisa menjumpai Burung Maleo beserta sarangnya yang unik. Pulau Moyo juga memiliki 16 site atau point diving. Kawasan ini terkenal dengan angel reef dan sea fan. Idola para diver yang berkunjung kesini adalah hiu sirip hitam dan hiu sirip putih.

Selain itu, perairan ini juga memiliki spot unik, yaitu SS Sumbawa yang berupa kapal tenggelam dengan kedalaman 19 meter. Ukuran kapal tersebut yakni 20x10x5 meter dengan kondisi masih utuh dan lengkap dengan terumbu karangnya.

Potensi berlimpah 

Dari kajian yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Pusat, dikatakan potensi Kawasan Samota mencapai Rp 11,608 triliun, . Besarnya potensi ini membuat pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten menggenjot pembangunan Samota sejak 2015.

Pemerintah Sumbawa yang menguasai Teluk Saleh, dan Moyo mengembangkan infrastruktur pendukung. Pemerintah Sumbawa juga membangun akses jalan cepat (bypass) sepanjang 24 km di Tanjung Menangis. Kini , jembatan raksasa di jalur itu sudah rampung dengan nama jembatan Samota.

Selain bypass itu, pemerintah meningkatkan kualitas jalan di kawasan Samota. Panjang jalan itu 216 km dengan dana Rp1,8 triliun lebih. Salah satu pintu masuk ke Teluk Saleh, sekaligus Moyo adalah Aibari, desa nelayan di ujung utara Sumbawa. Akses jalan ke Aibari kini sudah dipermak. Dulunya, jalan ini penuh debu dan lumpur, kini sudah beraspal.

Untuk pembangunan pelabuhan Aibari dan Calabai (Dompu), pemerintah menganggarkan Rp250 miliar. Dana itu bersumber dari Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan. Dalam master plan pengembangan kawasan Samota, pemerintah menghitung kebutuhan dana Rp5 triliun lebih. Dengan dana sebesar itu, potensi Samota tak kalah fantastis dengan anggaran Rp11,608 triliun.

Untuk sektor perikanan dan kelautan, potensi Samota seperti, rumput laut Rp3,6 triliun, udang Rp5,16 triliun, ikan kerapu Rp 2,8 trilun dan perikanan tangkap Rp 48 miliar. Rumput laut sudah lama jadi primadona melalui program Pijar (sapi, jagung, rumput laut).

Guna mendorong sektor perikanan di Samota, tak bisa setengah hati. Pemerintah harus menyediakan infrastruktur pendukung. Potensi Rp 11 triliun hanya mimpi kalau infrastruktur tak memadai.

Untuk pengembangan sektor perikanan, pemerintah akan membangun pelabuhan perikanan di Teluk Santong. Dana untuk pembangunan pelabuhan perikanan ini Rp150 miliar. Dana bersumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, BUMN, Perhubungan dan Pekerjaan Umum Pembangunan kawasan pelabuhan perikanan ini harus dikeroyok.

Pelabuhan perikanan juga akan didukung oleh tempat pelelangan ikan (TPI). Dana untuk pembangunan TPI Rp20 miliar. Sektor budidaya jadi ujung tombak perikanan di Sumbawa. Apalagi, Teluk Saleh dengan yang cukup tenang cocok untuk budidaya.

Tambak yang sudah lama dikembangkan di Sumbawa, akan lebih baik jika didukung jaringan irigasi. Jaringan saat ini dibangun para pemilik tambak belum maksimal. Pemerintah akan mengintervensi pembangunan jaringan irigai tambak sepanjang 200 km. Saat ini, katanya, baru tersedia 60 km. Dana untuk membangun masih perlu Rp150 miliar.

Peningkatan kualitas bibit ikan akan bisa dipenuhi jika dibangun fasilitas laboratorium. Demikian juga Pengolahan ikan, juga dibangun untuk mendukung industrialisasi sektor perikanan begitu juga Pasar khusus untuk perikanan juga akan dibangun.

Sektor yang tak kalah pentingnya adalah sektor pariwisata. Dengan potensi 49 gili, dan semuanya masih “perawan” menjadi daya tarik sendiri di Samota.

Saat ini, baru Pulau Moyo yang dipoles dengan masih banyak kekurangan. Akses jalan lingkar di Pulau Moyo, jaringan listrik, komunikasi belum tersedia. Akibatnya, berwisata ke Pulau Moyo perlu persiapan khusus.

Dalam master plan pengembangan Samota akan dibangun akomodasi/resort perhotelan, rencana lima resort dengan investasi Rp1,5 triliun. Harapan dana dari swasta.

Rencana pengembangan wisata di gili-gili dengan model shelter, sekadar tempat istirahat, bukan resort dan fasilitas pendukung lain seperti di Gili Tawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Gili-gili di Teluk Saleh disiapkan sebagai lokasi liburan. Lebih sepi dan tentu saja kelestarian lingkungan lebih terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Dukung program ketahanan pangan, Lanal Mataram buka lahan kosong dan bangun kolam ikan

Sun Jul 26 , 2020
Mataram – Anggota Lanal Mataram menyambut dengan antusias dan penuh semangat arahan Danlanal Mataram Kolonel Laut (P) Suratun, S.H., beberapa waktu lalu, yang meminta agar di masa pandemi COVID-19 agar berperan aktif dalam mendukung program ketahanan pangan pemerintah. “Ketahanan Pangan merupakan bagian dari Ketahanan Negara, dan saya meminta agar segenap […]