Nestapa Topat Inaq Husna di hari Lebarannya

GET MORE – Lebaran topat atau dalam Bahasa Indonesia Lebaran Ketupat adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok tepat seminggu setelah perayaan hari Raya Idul Fitri. 

Lebaran topat sendiri pada dasarnya adalah sebuah ‘lebaran kecil’ setelah umat muslim selesai menunaikan puasa sunnah di awal bulan Syawal, yaitu puasa selama 6 hari berturut-turut setelah hari Idul Fitri.

Perayaan Lebaran Topat di Pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid ini bahkan terkesan lebih ‘Wah’ dibandingkan dengan perayaan Idul Fitri.

Hampir seluruh warga masyarakat di Pulau Lombok yang beragama Islam khususnya, keluar rumah bersama keluarga, teman, tetangga bahkan pacar untuk pergi ke tempat-tempat wisata, baik wisata hiburan, wisata alam maupun religi sambil menikmati menu wajib, Ketupat.

Ketupat selalu identik dengan lebaran. Bahkan tak hanya di Pulau Lombok, tapi juga hampir diseluruh wilayah Indonesia, ketupat menjadi sajian wajib saat hari Raya Idul Fitri. Yang membedakannya, kalau di Lombok, Ketupat lebih sering hadir untuk disajikan saat Lebaran Topat.

Di Lombok, Topat mempunyai menu pendamping yang juga merupakan makanan khas Suku Sasak yang bahkan sudah menjadi ikon kulinernya, yaitu Pelecing Kangkung.

Selain itu ada juga yang menyajikannya dengan opor ayam atau daging yang tentunya tak kalah lezat.

Namun, disaat pandemi virus corona atau Covid-19 melanda, tradisi ini sedikit terusik. Rutinitas pelesiran ramai-ramai ke pantai atau ke tempat wisata untuk menikmati topat terganjal virus yang berasal dari China daratan ini.

Bahkan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh disela-sela patroli gabungan bersama TNI-Polri dan Forkopimda Kota Mataram pada, Minggu (31/5) meminta masyarakat agar melaksanakan perayaan lebaran topat tahun ini di rumah masing-masing.

“Banyak yang bisa dilakukan di rumah maupun di lingkungan kita masing-masing seperti dengan memperbanyak berdoa, berzikir dan berkumpul dengan keluarga sambil makan topatnya,’’ kata Walikota.

Hal tersebut demi memutus mata rantai penyebaran virus yang telah merenggut banyak korban jiwa diseluruh dunia.

Tak heran, kalau akhirnya banyak warga masyarakat di Pulau Lombok yang merasakan ‘Nestapa’ saat Lebaran Topat tiba tapi topatnya masih banyak tak dimakan. Seperti yang dialami Inaq Husna (42) asal Kota Ampenan yang membuat 3 kilogram topat untuk ia dan suami serta ke lima anaknya.

“Topat saya masih banyak begantung di dapur padahal saya buat seperti biasa cuma 3 kilo tapi suami dan anak-anak saya makannya cuma sedikit,” katanya.

Biasannya memang, menurut dia, kalau di makan di rumah kurang asyik dan nikmat.

“Kalau dimakan di pantai atau tempat wisata langsung habis dan terasa enak dan nikmat, mungkin karena setelah capek liburan kita jadi lapar,” ungkapnya sembari tertawa.

Kini, topatnya yang ditemani dengan Bantal, makanan dari ketan yang didalamnya biasanya diberi pisang atau kedelai yang dibungkus dengan daun kelapa seperti ketupat namun berbentuk panjang dan direbus bersama ketupat, harus rela tetap bergelantungan menunggu untuk di santap.

“Besok kalau sudah dua atau tiga hari biasanya baru dicari lagi,” kata Inaq Husna, “Tentunya setelah kita masak lagi, dan biasanya juga makin enak apalagi kalau Bantal-nya di panggang,” tambahnya sambil tertawa.

Selamat hari Lebaran Topat, semoga pandemi ini segera berlalu dan topatnya tak lagi ‘nestapa’ di hari lebarannya.

| mh




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kapolres Lobar : Tempat wisata sepi, bukti masyarakat taati himbauan pemerintah

Sun May 31 , 2020
Lombok Barat – Suasana Perayaan Lebaran Ketupat di Wilayah Hukum Polres Lombok Barat cenderung sepi, khususnya di tempat wisata Wilayah Senggigi Lombok Barat, Minggu (31/5). Kapolres Lombok AKBP Bagus S. Wibowo, SIK menjelaskan saat melakukan pemantauan bersama Dandim 1606 WB Kol. Czi Efrijon Khroll di semua Lokasi wisata bahwa kegiatan pemantauan pengamanan Lebaran Ketupat berjalan dengan […]