Meluruskan istilah yang membingungkan masyarakat : Rapid Test dan Swab

Oleh: Kurnia Pujiati, M.PH
(Alumni Postgraduate Studi Kesehatan Masyarakat (Public Health), Monash University Australia)

GET MORE – Baru-baru ini salah satu Desa di Lombok dihebohkan karena ada satu warganya yang dijemput oleh tim medis. Hasil Rapid Test orang tersebut positif. Lalu, masyarakat di desa tersebut mulai membicarakan bahwa ada warga yang Positif Corona Virus Disease (COVID-19).

Hal di atas kemudian memicu munculnya kekhawatiran berlebih di masyarakat. Namun, beberapa hari kemudian, orang yang tadinya hasil Rapid Test-nya positif dipulangkan dan warga diinformasikan oleh petugas kesehatan bahwa orang tersebut tidak positif Covid-19. Lalu tidak sedikit masyarakat yang kebingungan karena kejadian itu.

ilustrasi | foto : Hero

Nah, sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana orang bisa dinyatakan positif Covid-19?

Untuk mendiagnosis kasus Covid-19, ada beberapa istilah yang kerap kali kita dengar di media. Istilah-istilah tersebut adalah Rapid Test, Swab, dan PCR Tes. Ketidaktahuan kita tentang istilah-istilah yang digunakan dalam mendiagnosis COVID-19 ini dapat membuat kita salah paham dan bisa mendatangkan kekhawatiran yang berlebihan.

Istilah yang pertama adalah Rapid Tes. Menurut World Health Organization (WHO), Rapid Test adalah tes yang di desain untuk penyakit yang membutuhkan deteksi awal atau skrining awal. Test ini sangat berguna di negara yang sarana dan prasarana kesehatannya (seperti laboratorium) terbatas.

Di dalam penyakit menular, dengan adanya Rapid Test atau deteksi awal ini, yang terdeteksi positif agar bisa diisolasi terlebih dahulu untuk mencegah penularan sembari menunggu hasil tes dari laboratorium.

Rapid Test dilakukan dengan cepat dan menunjukkan hasil yang cepat. Rapid Test membutuhkan waktu sekitar 10 menit-2 jam. Ada beberapa macam Rapid Test tergantung dari cara kerja Rapid Test tersebut. Ada Rapid Test yang mendeteksi antibodi, ada juga yang mendeteksi antigen.

Sebagai contoh di dalam kasus Covid-19, Rapid Test bekerja dengan mendeteksi keberadaan antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan virus corona. Jika antibodi tersebut di temukan pada tubuh seseorang, maka orang tersebut dinyatakan positif Rapid Test dan “diduga” memiliki virus corona dalam tubuhnya. Orang ini bisa disebut “pasien reaktif”, bukan positif Covid-19.

Sensitivitas (kepekaan) Rapid Test dalam mendeteksi penyakit bervariasi antara 34% sampai 80% dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya, Rapid Test yang mendeteksi antibodi, dapat dipengaruhi oleh umur, vitalitas tubuh, adanya penyakit bawaan atau tidak, dan status gizi. Untuk itulah, Rapid Test masih bisa melakukan kesalahan yang dalam istilah epidemiologinya adalah False Positive dan False Negative.

False Positive (positif palsu) artinya hasil test tidak benar-benar positif. Sebagai contoh, Rapid Test mendeteksi orang tersebut positif, artinya Rapid test mendeteksi adanya antibodi di dalam tubuh seseorang tersebut. Namun, bisa saja antibodi yang dihasilkan oleh tubuh seseorang tersebut adalah respon atau reaksi dari virus lain, bukan virus corona. Oleh karena itu, hasil tes orang tersebut positif palsu.

False Negative (negatif palsu) adalah orang yang terdeteksi negatif di Rapid Test, tapi tidak benar-benar negatif. Hal ini disebabkan karena bisa saja orang tersebut sudah memiliki virus corona di dalam tubuhnya, tapi ketika dilakukan RapidcTest, tubuhnya belum memproduksi antibodi atau vitalitas tubuhnya bagus sehingga Rapid Test mendeteksi orang tersebut negatif. False Negative ini yang kemudian sangat berpotensi sebagai sumber penularan penyakit di masyarakat. Kedua kesalahan inilah yang menyebabkan Rapid Test belum direkomendasikan untuk mendiagnosis seseorang positif Covid-19 atau tidak. Tapi bagus untuk deteksi awal atau skrining awal.

Istilah yang kedua adalah Swab. Swab adalah salah satu metode pengambilan sampel. Sampel adalah bagian kecil dari suatu objek yang diteliti yang mana hasil dari penelitian dari sampel tersebut bisa mewakilkan keseluruhan objek yang diteliti. Pasien reaktif atau yang dinyatakan positif Rapid Test-nya, akan dilakukan Swab. Men-swab (me-wipe) akan dilakukan di bagian tubuh yang terdapat virus, misalnya di tenggorokan dan rongga hidung. Sampel yang diambil ini kemudian akan dilakukan PCR Test (Polymerase Chain Reaction).

PCR Test adalah tes yang langsung menganalisis RNA (temannya DNA) virus dan mendeteksi keberadaan virus tertentu (dalam hal ini corona) di dalam tubuh. PCR Test biasanya di lakukan di Laboratorium. PCR Test merupakan tes yang direkomendasikan oleh WHO untuk mendiagnosis Covid-19. Karena, PCR Test adalah tes yang langsung mendeteksi keberadaan virus di dalam tubuh seseorang.

Kesimpulannya, orang yang positif Rapid Test disebut “pasien reaktif” atau belum bisa di sebut positif Covid-19. Untuk mendiagnosis atau memvonis seseorang positif Covid-19 atau tidak, harus dilakukan Swab dan PCR Test.

Untuk itu, jika ada penjemputan oleh petugas kesehatan ke rumah, jangan panik dulu, jangan khawatir berlebihan, karena orang tersebut belum tentu positif Covid-19. Khawatir dan takut boleh, tapi jangan berlebihan. Intinya, tetap waspada, jaga jarak, rajin cuci tangan, jangan kumpul-kumpul, dan banyak-banyak berdoa.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Satgas Gugus Tugas Covid-19 Sakra Timur berikan himbauan di Pasar Lepak dan Pasar Kaget

Fri Apr 24 , 2020
Lombok Timur – Danposramil Sakra Timur Koramil 1615-07/Sakra Pelda Sahabudin bersama anggota yang tergabung dalam Tim Satgas Gugus Tugas Percepatan Penanganan virus corona (Covid-19) memberikan imbauan kepada para pengunjung dan pedagang pasar Lepak dan pasar Montong Tangi Kecamatan Sakra Lombok Timur, Jumat (24/4). Imbauan tersebut juga dilakukan bersama Camat Sakra […]