Progres Pembangunan RTG Lombok Barat capai 97%

Lombok Barat – RTG yang sudah dibangun seratus persen sebanyak 64% sedangkan sisanya on progress, sehingga hampir 97 persen RTG sudah dibangun dan sekitar 3 % itu masih ada kendala seperti buku tabungan yang belum diambil.

“Ini yang 64% itu bukan berarti yang 33 sekian persen itu belum terbangun, mereka on progress, ada yang 80% sehingga belum masuk di 100%, ada yang 50%,” tanas Joko.

Giat vidcon diikuti oleh Gubernur NTB Dr Zulkieflimansyah,seluruh kabupaten/kota yang ada di NTB, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Rifai, dan lain-lain.

Ini merupakan hasil penjelasan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, Joko Marhandriyanto, ST di sela-sela acara video conference (vidcon) dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Ruang Jayengrane, Selasa (21/4).

Ketika melihat dari rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah lain, progress Nusa Tenggara Barat (NTB) terbilang cepat.

“Progress kita termasuk yang lumayan cepat di antara daerah-daerah lain yang terkena gempa. Aceh misalnya butuh belasan tahun untuk normal 100% semuanya, Sinabung dalam tiga tahun hanya mampu membangun 600 rumah. Di Jogja lebih dari tiga tahun juga. Kita di NTB terutama di Lombok Barat, mampu membangun rumah sebanyak 72.843 unit RTG,” ujar Joko.

Percepatan ini, karena Provinsi NTB dan Lombok Barat mengacu pada daerah-daerah lain yang terkena gempa di seluruh Indonesia, termasuk mengantisipasi kendala-kendala yang pernah dialami daerah-daerah tersebut.

dari 72.843 RTG tersebut, sekitar 14 ribu termasuk rusak berat, lebih dari 13 ribu rusak sedang, dan lebih dari 45 ribu rusak ringan.

“Yang paling parah di empat kecamatan yang terdekat dengan Lombok Utara sebagai sumber gempa yaitu Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Lingsar, dan Narmada, itulah centernya terbanyak daripada rumah-rumah yang terkena gempa,” tadas Joko.

Terkait dengan wabah COVID-19, ia mengaku sangat berpengaruh dari sisi progress reportnya.

“Contoh misalnya, fasilitator dulu rombongan ramai-ramai menilai rumah banyak, sekarang cuma satu dua orang yang turun sehingga dalam satu hari hanya menghasilkan 2-3-4 rumah yang dulu bisa 14-15 rumah, itu dari sisi pengawasan,” ujar Joko. Selain pengawasan, ada juga kendala dari sisi tukang. Para tukang, sebut Joko, betul-betul sadar terhadap COVID-19  ini sehingga mereka sampai menemui orang saja tidak berani, namun ada juga yang berani, yang kerjanya harian langsung dibayar,” cerita Joko.

untuk RTG yang rusak parah diberikan bantuan RP 50jt, untuk yang rusak sedang Rp 25jt, dan untuk yang rusak ringan Rp 10jt.

“Uang masuk ke rekening mereka tapi diblokir oleh bank, pencairannya melalui kelompok-kelompok masyarakat beranggotakan maksimal 20 orang atau minimal tiga orang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara,” ujar Joko.

Kepala Pelaksana BPBD Lobar, Mahnan, dalam paparannya menyampaikan telah dua kali menyampaikan usulan data pembangunan 76.553 unit rumah, namun yang disetujui setelah direviu sebanyak 72.843 unit RTG.

“Mengenai progres sama dengan yang lain yaitu terkait SK PPK agar segera diterbitkan, perpanjangan fasilitator agar ditindaklanjuti, dan bantuan tambahan yang kami usulkan dalam percepatan penanganan rumah tahan gempa agar dipertimbangkan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kades Terong Tawah Gelar Rapat bahas BLT untuk warga yang tidak mampu

Wed Apr 22 , 2020
Lombok Barat – Untuk mengurangi dampak sosial akibat pandemi viruscorona, Pemerintah Desa Terong Tawah Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat melalui Kades Trongtawah menindaklanjuti surat edaran Kementrian Desa RI untuk menggelar giat rapat prefikasi Data warga yang dikategorikan miskin atau tidak mampu yang berhak mendapatkan Bantuan Langsung Tunai ( BLT ). […]