Musixperience : Mimpi Ari Juliyant dari ‘Stasiun Mataram’ untuk NTB

GETNEWS.ID – Taman Budaya Nusa Tenggara Barat sebagai laboratorium seni memberikan perhatian serius terhadap keberadaan seni yang berada di wilayahnya, salah satu bentuk perhatian tersebut adalah dengan menggelar acara rutin untuk pentas seni baik di teater terbuka maupun tertutupnya. Salah satunya adalah Pentas Musik bertajuk Musixperience yang menghadirkan dua musisi lokal, Ari Juliyant dan Suradipa, Sabtu.

Yang menarik pada pentas kali ini, sebuah mimpi besar coba diungkapkan lewat musik oleh Ari Juliyant. Dengan tema pentasnya Kereta Api itu Dari Stasiun Mataram, Ari coba mengajak penonton ikut ‘hadir’ dalam mimpi-nya dengan lagu-lagu ciptaanya yang bergenre- Country Folk.

Ari Juliyant and The Badjigur Bluegrass tampil bersama anak-anak Disabilitas Lombok Care

“Intinya, Kereta Api itu Dari Stasiun Mataram mengemban pesan tentang optimis kita mendukung pembangunan di NTB.” Ungkap Ari.

Ari Juliyant dan The Badjigur Bluegrass tampil atraktif, digawangi Ari Darjanto Juliyant (Vokal, Gitar, Piano, Banjo), Arif Prasojo (Biola) dan Wawan Werdaya (Fretless/Up Right Bass). Penampilan mereka dibuka dengan pemutaran video tentang kisah Braga, sebuah nama jalan di Kota Bandung tempatnya banyak belajar musik semasa sekolah dulu. Dan diiringi pembacaan sejarah singkat tentang Braga sebelum akhirnya Ari mendendangkan lagu Pernah Ada Sang Braga Stone (2010) sebuah kisah inspiratif yang begitu membekas dalam memori seorang Ari Juliyant.

Braga Stone adalah seorang pengamen buta yang mangkal di jalan Braga, “Dia paling sering membawakan lagu-lagunya Rolling Stones hingga orang kerap memanggilnya dengan sebutan Rolling Stone-nya Braga, Braga Stone,” cerita Ari mengenang ‘Sang Mentor‘ yang juga sering membawakan lagu-lagu John Denver.

Ditengah-tengah penampilannya, Ari mengajak anak-anak disabilitas dari Lombok Care untuk tampil bersamanya membawakan lagu, Mataram Dream Express.

“Ini adalah mimpi saya, semoga akan ada kereta api di NTB ini yang menghubungkan Lombok dan Sumbawa,” katanya sembari tersenyum, “Namanya juga mimpi,” tambahnya yang disambut tawa penonton.

Menyusul kemudian Ari membawakan lagu-lagu lama dari karyanya dari periode 1986 hingga yang terbaru. Medio Oktober-ku (1986), Lamunan Stasiun Tugu (2006), Dalam Satu Perjalanan (2004), Nyanyian Pagi Dari Sumbawa (2004), Di Lepas Pantai Padang Bai (2009). Semua lagu-lagu tersebut kental dengan sajian etnik nusantara, sebagai ciri khasnya.

“Leonardo Da Vinci pernah berfantasi, bisa terbang seperti burung dan kini mimpinya itu menjadi kenyataan. Kita bisa terbang dengan pesawat, Drone, Paralayang dan sebagainya. Semoga fantasiku-pun suatu saat di NTB ini akan ada kereta api akan menjadi kenyataan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

President-PT PLN discusses power supply recovery efforts

Mon Aug 5 , 2019
GETNEWS.ID – President Joko Widodo (Jokowi) met with state-owned electricity firm PT PLN’s board of directors, Monday, to discuss efforts to recover power supply following a major blackout in Jakarta, West Java, and Banten on Aug 4. “In a big company, such as PLN, I think a risk management system […]