Perang Palestina – Israel Jilid IV

Oleh: Smith AlhadarPenasihat pada Indonesian Society for middle East Studies (ISMES)

JAKARTA – Perang Gaza-Israel beberapa hari ini telah menimbulkan keprihatinan mendalam komunitas internasional. Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta pihak bertikai menahan diri. Turki meminta Israel menghentikan penggunaan kekerasan yang tidak proporsional.

Hingga hari ketiga, 5 Mei, tak kurang dari 24 warga Palestina terbunuh dan 70 orang lainnya cedera setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara terhadap Jalur Gaza.

Empat warga Israel pun tewas oleh serangan roket Hamas dan Jihad Islami dari Gaza. Bisa jadi perang akan terus bereskalasi hingga mencapai level perang 2014 di mana lebih dari 2.000 warga Palestina terbunuh dan infrastruktur vital Gaza rusak berat.

Israel sendiri menderita kematian 66 tentara yang melakukan penetrasi jauh ke dalam wilayah Gaza. Perang saat ini merupakan kelanjutan konflik bersenjata Israel-Palestina pada akhir Maret.

Hamas dan Jihad Islami berhenti meluncurkan roket setelah Israel menyetujui melonggarkan blokade total atas Gaza sejak 2007, meluaskan zona pencarian ikan bagi nelayan Gaza, meningkatkan impor ke Gaza, dan mengizinkan Qatar menyalurkan dana ke Gaza.

Namun, Israel tidak menepati janjinya. Malah mempersempit zona pencarian ikan pada akhir April. Sementara itu, sudah lebih dari 200 warga Gaza ditembak mati Israel ketika melakukan unjuk rasa ‘Mars Pulang Akbar’ di sepanjang pagar perbatasan Gaza-Israel.

Demonstrasi ini dilakukan rutin setiap Jumat sejak 30 Maret 2018. Yang berdemonstrasi adalah pengungsi Palestina yang meninggalkan kampung halaman mereka di Israel setelah kelompok-kelompok teroris Yahudi, seperti Hagana dan Irgun, membumihanguskan desa-desa Palestina pada 1948. Hak pulang mereka sejalan dengan resolusi-resolusi DK PBB.

Perang saat ini dimulai pada 3 Mei saat dua tentara Israel ditembak faksi bersenjata Palestina di Gaza. Israel pun membalas dengan melancarkan serangan udara dan artileri ke ratusan target di Gaza. Hamas dan Jihad Islami membalas dengan melancarkan lebih dari 400 serangan roket ke kota-kota Israel di selatan.

Israel mengklaim lebih dari 250 roket ditangkis oleh sistem antirudal Iron Dome. Serangan Hamas dan Jihad Islami terjadi menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Israel 15 Mei dan acara final kontes menyanyi Eurovision 2019.

Israel tentu berharap perang berhenti sebelum tanggal dua acara itu. Namun, tindakan bumi hangus serangan Israel terhadap jalur sempit itu bukanlah kebijakan yang benar untuk menghentikan perlawanan.

Jalan yang tepat menenangkan dua juta warga Gaza yang dikerangkeng selama 12 tahun terakhir adalah memberikan harapan hidup pada masa depan, menegakkan keadilan, dan memulihkan harga diri mereka dengan mencabut blokade atas Gaza.

Selain itu, melonggarkan batasan-batasan ekonomi, memfasilitasi pemerintahan Gaza untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengalirkan listrik ke Gaza. Ekonomi Gaza telah lumpuh sejak blokade diberlakukan dan dihentikannya bantuan asing ke Gaza.

Menurut Bank Dunia, pengangguran di Gaza mencapai 52 persen dan kemiskinan merajalela. Di tengah situasi yang sangat sulit ini, militer Israel yang jauh lebih superior melancarkan tiga serangan ke Gaza sejak 2008, menyusul kemenangan Hamas di pemilu tahun 2006 yang demokratis.

Perang terakhir pada 2014 lebih jauh menghancurkan infrastruktur Gaza yang rapuh, mendorong PBB memperingatkan bahwa Gaza tak dapat dihuni lagi pada 2020.

Hamas dan Jihad Islami yang mendominasi Jalur Gaza memang tidak mau tunduk dan bergabung dengan Otoritas Palestina di bawah Presiden Mahmoud Abbas dari Fatah yang memerintah Tepi Barat walaupun berbagai negara Arab, terutama Mesir dan Arab Saudi, telah berulang kali mengusahakan rekonsiliasi di antara mereka.

Hamas dan Jihad Islami bahkan tetap mempersenjatai diri. Tetapi sikap kedua faksi bisa dimaklumi mengingat tidak ada tanda-tanda Israel mau berdamai dengan Palestina berdasarkan Resolusi DK PBB 242 dan 338 serta Kesepakatan Oslo 1993.

Sejak April 2014, proses perdamaian Israel Palestina macet total. Israel memang tidak ingin memerdekakan Palestina dengan wilayah Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina merdeka. Dan posisi Israel didukung oleh AS.

Sementara Otoritas Palestina kini mandul. Abbas menolak pengakuan Washington atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, tetapi tak dapat berbuat apa-apa untuk keluar dari tekanan.

Bahkan, Otoritas Palestina kian lemah setelah AS menutup kantor Organisasi Pembebasan Palestina di Washington, menghentikan bantuan kepada jutaan pengungsi Palestina, dan menghentikan bantuan sosial bagi Palestina.

Dalam situasi seperti ini, tidak masuk akal mengharapkan Hamas dan Jihad Islami tunduk pada sikap Otoritas Palestina dan Israel. Pembangkangan Hamas dan Jihad Islami terhadap Kesepakatan Oslo juga bisa dimengerti.

Kesepakatan itu merupakan tipu muslihat Israel untuk menguburkan cita-cita Palestina memiliki negara merdeka. Kesepakatan mengharuskan Otoritas Palestina menjaga keamanan di kantong-kantong Palestina di Tepi Barat yang dikontrolnya.

Kewajiban ini kalau diikuti dengan ketaatan Israel pada kesepakatan, masuk akal. Faktanya, Abbas harus merepresi warga Palestina yang menyuarakan aspirasi terkait penindasan Israel.

Kalau ada warga Palestina yang menyerang pemukim ilegal Yahudi di Tepi Barat, tentara Israel dapat masuk ke wilayah yang dikontrol Otoritas Palestina, menggeledah, menghancurkan rumah, menghukum tersangka, sering dengan menembak mati di tempat hanya karena tersangka mengekspresikan sikap anti-Israelnya.

Kenyataan inilah yang membuat Hamas dan Jihad Islami tetap memegang senjata untuk mencegah tentara Israel sesuka hati masuk ke permukiman Palestina untuk menangkap atau membunuh warga yang dicurigai melanggar norma yang ditetapkan Israel.

Juga untuk memiliki posisi tawar vis a vis Israel. Disayangkan, AS tetap mendukung dan melindungi Israel lepas dari apa pun yang dilakukan anak emasnya itu terhadap Palestina.

Sikap AS inilah yang membuat masalah Palestina menggantung sampai sekarang walaupun telah berusia seabad. Hamas dan Jihad Islami yang bersenjatakan rudal rakitan yang lemah ditetapkan sebagai kelompok teroris karena melawan Israel.

Sementara itu, Israel yang melakukan terorisme negara secara terang-terangan dan menerapkan politik Apartheid terhadap Palestina dianggap wajar karena dikatakan ‘hanya membela diri’ demi mempertahankan negara demokratis. Ini indoktrinasi AS dan Israel.

Dalam bukunya Pirates dan Emperors, Noam Chomsky mengecam AS dan Israel sebagai negara teroris utama di dunia. Dalam perang saat ini, pasti Israel akan membunuh lebih banyak orang Palestina dan menghancurkan Gaza lebih jauh.

Namun, itu tidak akan membuat perlawanan Palestina berhenti. Gaza dan Tepi Barat hanya akan tenang kalau hak-hak fundamental Palestina ditegakkan.

sumber : republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

KPU KLU Rampungkan Pleno Rekapitulasi Pemilu 2019

Tue May 7 , 2019
LOMBOK UTARA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar Rapat Pleno Terbuka terkait rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara serta penetapan hasil pemilu tahun 2019. Acara tersebut berlangsung selama dua hari, yang berlangsung lancar dari tanggal 04-05 Mei di Hotel Bay Marina, Lombok Utara. Rapat pleno terbuka yang […]

You May Like