Puluhan hektar tanaman jagung di Bima ini terancam gagal panen

Sanggar, Bima – Puluhan hektar tanaman jagung milik warga masyarakat di kawasan pertanian  So Ndata,  Desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), terancam gagal panen. 

Dilansir dari rri.co.id, puluhan hektar tanaman jagung tersebut diserang hama tikus yang mengakibatkan kerusakan pada tongkol jagung seperti tampak terlihat didalam gambar.

Alhasil, para petani tanaman jagung di So Ndata Desa Kore itupun bersiap merugi.

Menurut salah seorang petani, hama tikus itu menyerang dan menyantap tanaman jagung mereka pada malam hari. Hal ini sudah berulangkali terjadi dan telah dilakukan beragam upaya oleh Para petani setempat namun hama tikus tersebut tak kunjung usai.

“Sepertinya serangan hama tikus itu terjadi di malam hari,” ucap salah seorang petani jagung setempat. 

Selain dihadapkan pada persoalan  serangan hama tikus, para petani jagung, juga mengaku di area perladangan serta kawasan pegunungan Desa setempat, sebagian besar,  mengalami gagal panen, disebabkan kurangnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir,  yang mengakibatkan tanaman jagung hasilnya semakin tidak produktif dan rusak, hingga petani pun mengalami kerugian.

Nurwahidah, salah seorang petani jagung, Selasa (4/8/2020), mengatakan dirinya hanya bisa pasrah melihat kondisi tanaman jagungnya yang rusak.  

Tak hanya tanaman  jagung miliknya, tanaman padi warga di sekitarnya juga mengalami kerusakan akibat serangan hama tikus.

“Sudah rusak semua buah jagung dimakan semua sama tikus. Demikian juga tanaman  padi saya,  juga diserang hama tikus. Kalau panen hanya sedikit yang bisa di dapat, sebagian besar rusak dimakan tikus,” ungkapnya. 

Para petani kini tak bisa berharap banyak, meskipun tanaman jagung mereka sebagian kecilnya masih bisa dipanen, namun hasilnya tak seimbang dengan modal yang dikeluarkan. 

Karena itu para petani berharap untuk kedepannya, pemerintah  daerah melalui Dinas Pertanian dapat memberikan bantuan obat untuk mengatasi  hama tikus yang menyerang tanaman jagung dan  tanaman padi  milik mereka. 

Pengendalian hama tikus harus dilakukan secara masif, karena serangan hama ini, tidak hanya menyerang tanaman jagung, namun juga tanaman lainnya seperti pagi dan tanaman ubi lainnya, karena umumnya pola pertanian didaerah ini dilakukan secara polikultur. 

Sistem polikultur adalah metode dalam pola penanaman lebih dari satu jenis, sehingga pada suatu lahan pertanian dalam jangka waktu tertentu terdapat berbagaai macam tumbuhan, yang mana dipengaruhi oleh aspek lingkungan yang dapat berpengaruh pada ketersediaan air. 

Umumnya pola tanam polikultur ini dilakukan pada daerah pertanian dengan curah hujan yang tidak merata dan sistem irigasi yang terbatas seperti di Kecamatan Sanggar ini.  

Curah hujan yang tidak merata kemungkinan tidak akan mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang butuh banyak air seperti padi, sehingga dengan kondisi curah hujan minim lahan tersebut akan ditanami komoditas yang hanya membutuhkan sedikit air seperti jagung dan kacang hijau.

| bima/rri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Perda penanganan COVID-19 hantui masyarakat, Ketua DPRD Kota Mataram angkat bicara

Wed Aug 5 , 2020
Mataram – Peraturan daerah (Perda) yang menjadi atensi pemerintah dalam penanganan covid-19 menuai pro kontra dikalangan masyarakat. Pasalnya perda yang diketok dan diresmikan tanggal 03 Agustus oleh DPRD provinsi tersebut seakan menghantui masyarakat. Dengan menekankan denda mulai dari 100-500 ribu bagi setiap masyarakat yang tidak mengenakan masker. Ketua DPRD Kota […]