Lanal Mataram, Inilah Saatnya!

Mataram – Bergantinya pucuk pimpinan Komandan TNI Angkatan Laut Mataram dari Kolonel Laut (P) Dados Rainokepada ke Kolonel Laut (P) Suratun, SH., membawa semangat baru di jajaran Korps Marinir yang bermarkas di Ampenan Kota Mataram tersebut.

Dalam melaksanakan tugas pokok TNI Angkatan Laut yaitu melaksanakan tugas TNI matra laut di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum internasional dan nasional, melaksanakan tugas diplomasi Angkatan Laut dalam rangka mendukung kebijakan luar negeri yang ditetapkan pemerintah, melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut serta melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan laut.

Pangkalan hanya bagian kecil dari jajaran TNI AL dalam melaksanakan tugas pokok sesuai UU, dalam rangka melaksanakan tugas pokok tersebut gelar Pangkalan terdiri dari kelas A, kelas B dan kelas C yang dalam operasionalnya bertangung jawab langsung kepada Pangkoarmada.

Pangkalan TNI Angkatan Laut Mataram  disingkat Lanal Mataram  adalah unsur pelaksana Koarmada II yang berkedudukan langsung dibawah Koarmada II dengan pembinaan administratif dibawah Lantamal VII. Lanal Mataram  memiliki tugas pokok menyelenggarakan dukungan logistik dan administrasi bagi unsur-unsur TNI AL  serta Kotama TNI AL secara terbatas, menyelenggarakan keamanan Laut serta pembinaan Potensi Maritim menjadi kekuatan  pertahanan  Negara  di Laut  serta tugas-tugas  lainnya berdasarkan  kebijakan pemimpin.

Dukungan Pangkalan TNI Angkatan Laut yang cukup mewadahi dari segi pelayanan dan dukungan logistik, untuk dapat mendukung dengan baik terhadap unsur atau KRI  yang akan melaksanakan bekal ulang (bekul).

Pangkalan TNI AL (LANAL) memiliki Posmat TNI AL atau yang biasa di sebut Pos pengamat TNI AL dan Posal TNI AL atau Pos TNI AL adalah unit terkecil yang dimiliki TNI AL. Tugas dan peranannya sangat diandalkan sebagai mata serta telingan Pangkalan TNI AL (LANAL). Posmat atau Posal adalah unsur pelaksana teknis yang bertugas mengumpulkan informasi data intelijen maritim dalam rangka mengemban fungsi intelijen maritim yang diwenangkan kepada TNI AL dalam hal ini Komandan Lanal Mataram.

Merupakan Sebuah implementasi dari tugas pokok peran dan fungsi sebagai elemen terkecil dalam strata, gelar Pangkalan TNI Angkatan Laut. Posal mempunyai tugas pokok mengumpulkan informasi dan selanjutnya disampaikan ke satuan atas untuk dikaji dan dievaluasi sebagai data masukan untuk pengambilan keputusan, baik dalam tingkat taktis operasi dan strategis. Selain bertanggung jawab terhadap keamanan Laut serta pemberdayaan dan pemanfaatan potensi maritim yang berada diwilayahnya, Posmat dan Posal  juga harus mempunyai peranan langsung terhadap lingkungan sekitar

Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Mataram Kolonel Laut (P) Suratun, S.H., menyampaikan “Posal-posal dibawah  jajarannya agar melaksanakan peran nyata dalam pengamanan dan pembangunan di daerah, salah satunya adalah dengan perbantuannya ke Pemerintah Daerah yang sesuai dengan UU No. 34 tahun 2004 yang menyebutkan tugas pokok TNI, terutama pada peran TNI dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) di butir 5 dan 9, Posmat serta Posal juga diwajibkan memiliki tugas dan kemampuan Patroli terbatas, SAR terbatas serta bersinergi dengan instansi terkait melaksanakan pembinaan masyarakat dan potensi maritim yang berada diwilayah kerja masing-masing,” jelas Surataun.

Lanal Mataram memiliki sejumlah Posmat dan Posal yang berada di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Diantaranya yang berada di Pulau Lombok yaitu Posmat Lembar (Kab. Lombok Barat), Posal Gili Air (Kab.Lombok Utara), Posal Selat Alas dan Posal Tanjung Luar (Kab. Lombok Timur), Posal Teluk Awang (Kab. Lombok Tengah), sedangkan yang berada di Pulau Sumbawa antara lain Posal Benete (Kab.Sumbawa barat), Posal Labuh Padi (Kab. Sumbawa besar), Posal Calabai (Kab. Dompu), Posal Kolo (Kota. Bima), dan Posal Sape (Kab. Bima).

Pelantikan yang dilaksanakan di Marsheling area Mako Lantamal VII, Selasa (09/06), merupakan hal yang wajar sebagai bentuk realisasi dari kebijakan pimpinan TNI AL dalam rangka regenerasi, guna mengoptimalkan kemampuan Pangkalan untuk mendukung tugas pokok Lantamal VII. 

Rekam jejak Suratun selama berkarier di TNI AL termasuk gemilang. Prajurit dari kecabangan Pelaut ini pernah bertugas di Armabar Satrol KRI Sikuda 863, Satkor KRI Abdul Halim Perdana Kusuma 355/Palaksa.

Kariernya terus melesat dengan dipercaya sebagai komandan kapal. Dimulai sebagai komandan KRI Banda Aceh 593 yang merupakan kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) buatan PT PAL.

Kolonel Suratun bersama istri dan kedua anaknya (foto koleksi pribadi)

Rekam jejak itu makin mentereng karena setelah itu Suratun ditunjuk untuk menjadi Paban Rencana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat, (GUSPURLABAR) saat ini berubah menjadi Guspurla I.

Tidak mengherankan setelah itu berbagai jabatan strategis pernah diembannya.

Dari lautan, kemudian pria kelahiran Banyumas, 25 September 1970 ini ditunjuk untuk mengisi jabatan Komandan Lanal Mataram.

Sebagai Danlanal Mataram, walau baru berjalan kurang 60 hari, Suratun mulai menunjukkan kemampuannya. Dengan berbekal pengalaman bertugas dibeberapa daerah, pria yang selalu tampil sederhana ini membuat beberapa gebrakan.

Dihadapkan langsung pada masa pandemi virus Corona, Suratun segera memerintahkan segenap jajarannya untuk ikut ambil bagian membantu pemerintah mengurangi dampak penyebaran virus yang berasal dari China daratan tersebut. Salah satunya dengan memberikan pelayanan penanganan pemeriksaan Covid-19 disetiap Posal dan Posmat.

Tak hanya itu, suami dari Silvia Permana ini juga membagikan Starter Pack untuk meringankan beban warga terdampak Covid-19 di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Khususnya warga di daerah pesisir. Memnggalakkan budaya bercocok tanam khususnya sayur di setiap lahan kosong baik dirumah anggota maupun dilahan yang dimiliki Lanal Mataram guna menunjang ketahanan pangan.

Selain ikut ambil bagian dalam penanganan covid-19, Lanal Mataram langsung ‘dipaksa’ untuk ‘nge-gass poll’ oleh Suratun untuk mendata semua potensi sumber daya alam khususnya potensi di bidang maritim yang ada di wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat.

Suratun selalu menyampaikan kepada segenap jajarannya di Lanal Mataram agar menumbuhkan semangat ‘Jalesveva Jalamahe’ yang sering kali diterjemahkan sebagai “Di Lautan Kita Jaya”.

Motto ini sebenarnya berasal dari zaman Majapahit, yang angkatan lautnya sering memakai kata ini untuk membangkitkan semangat.

Kini Suratun mencoba untuk menanamkan makna motto tersebut ke dalam diri anggota di jajarannya di Lanal Mataram untuk menunjukkan kembali marwah Angkatan Laut.

“Inilah saatnya,” ungkapnya disalah satu Jam Komandan, yaitu saat ia memberikan pengarahan kepada anggotanya.

“It’s Show Time, inilah saatnya kita menunjukkan diri kita sebagai perajurit TNI AL di saat pandemi ini, di saat negara dan rakyat membutuhkan semua pihak untuk bersama-sama saling membantu untuk mencegah penyebaran virus ini. Membantu pemerintah memberikan solusi, yang setidaknya bisa meminimalisir dampak pandemi ini, khususnya dampak di bidang ekonomi dan ketahanan pangan,” tegas Suratun.

Suratun pun menjabarkan beberapa idenya, untuk pariwisata, alumni Akademi AL tahun 1992 ini menjelaskan sesuai dengan profesi dan pengalamannya sebagai perajurit TNI AL, ia menawarkan konsep One Island One Room (Lebih lengkap Baca : One Island One Room cara Suratun Berdayakan Pulau Terluar) sebagai solusi menggerakkan sektor pariwisata di masa pandemi corona.

Konsep One Island One Room terinspirasi dari pengalamannya selama berada bertugas di Kapal, dimana ia harus sering berlayar ke hampir seluruh wilayah negeri.

“Konsep ini terinspirasi dari pengalaman saya selama menjelajahi negeri ini saat bertugas di Kapal,” ungkapnya.

“Ini konsep sederhana, dimana seperti kita ketahui, negeri kita ini adalah terdiri dari ribuan pulau, yang karena saking banyaknya hingga kadang kita belum mampu untuk memberdayakannya juga menjaganya secara kontinyu,” jelasnya.

One Island One Room atau kalau diartikan kedalam Bahasa Indonesia berarti Satu Pulau Satu Kamar, dijelaskan Suratun sebagai salah satu solusi memberdayakan pulau-pulau terluar dan masyarakatnya.

Dikatakannya, setiap pulau di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dan itu merupakan daya tarik tersendiri untuk dijadikan sebagai destinasi wisata bahari premium.

“Dengan menjadikan satu pulau layaknya satu kamar hotel bintang lima, dimana pihak pemprov maupun pemkab bisa “menyewakannya” kepada wisatawan,” katanya.

Suratun juga menjelaskan bahwa konsep ini tidak membutuhkan biaya besar apalagi membangun infrastruktur seperti hotel. Ia malah menolak adanya pembangunan yang bisa merusak kealamian pulau tersebut.

“Jadi yang kita butuhkan untuk memberdayakan pulau tersebut adalah sinergitas antara pemerintah setempat dengan warga sekitar pulau yang akan dibekali kemampuan layaknya pegawai hotel,” tambahnya.

Hotel atau penginapan yang dibuat di setiap pulau menggunakan tenda yang bisa dibongkar pasang.

“Tentu tenda yang akan kita gunakan adalah tenda VVIP yang didalamnya kita buat layaknya kamar hotel,” jelas Suratun.

Suratun yakin, kalau konsep One Island One Room-nya bisa membantu para pelaku wisata khususnya wisata bahari untuk kembali ber-aktivitas menjelang new normal di masa pandemi covid-19.

Tentunya, konsep ini harus dipelajari kembali dan di bahas dengan pihak-pihak terkait yang lebih mengerti tentang pariwisata, tambahnya.

Selain konsep pariwisata bahari, Suratun juga menggerakkan jajarannya terutama di setiap Posal dan Posmat untuk melaksanakan Kerja Bhakti memperbaiki infrastruktur yang terkait dengan pemberdayaan sumber daya perikanan di wilayah masing-masing.

“Dengan membantu memperbaiki sumber daya yang sudah ada seperti Tempat Pelelangan Ikan, dermaga tradisional atau membuka akses baru masyarakat khususnya dipesisir yang berprofesi sebagai nelayan diharapkan mampu membangkitkan kembali roda perekonomian masyarakat terlebih dimasa pandemi ini,” ungkap Suratun.

Suratun bermimpi, jika semua sarana dan prasarana penunjang masyarakat pesisir tersedia dan beroperasi, konsep one island one room akan semakin mudah dilakukan dan swasembada perikanan bisa terealisasi.

“It’s SHOW TIME!.” Pungkasnya penuh semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Cegah Klaster baru Covid-19, Lanal Mataram laksanakan protokol kesehatan

Fri Jul 24 , 2020
Lombok Barat – Danlanal Mataram Kolonel Laut (P) Suratun, S.H., perintahkan Balai kesehatan melaksanakan Disinfeksi dan Thermal Screening antisipasi dan mencegah timbulnya klaster baru pada KRI Tongkol 813, Jumat (24/7). KRI Tongkol yang memiliki nomor lambung 813 dan di komandani Mayor Laut (P) Arif Priwadi Wibowo beserta 39 anak buahnya […]